
Seputar Indonesia Timur – Kini, teka-teki di balik kasus pembunuhan yang disertai mutilasi empat warga di Mimika, Papua, perlahan mulai terkuak. Diduga, faktor ekonomi menjadi motif di balik pembunuhan sadis tersebut.
Hingga kini, penyidik Polisi Militer TNI AD sudah menetapkan enam prajurit sebagai tersangka dalam kasus mutilasi ini.
Dua dari enam tersangka adalah seorang perwira infanteri berinisial Mayor Inf HF dan Kapten Inf DK, sisanya berinisial Praka PR, Pratu RAS, Pratu RPC dan Pratu R.
Sementara itu, empat tersangka dari kalangan sipil yakni APL alias J, DU, R, dan RMH. Untuk para tersangka sipil ditangani pihak kepolisian.
“Sementara ini motifnya ekonomi,” terang Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Darat (Danpuspomad) Letnan Jenderal Chandra W Sukotjo.
Sebanyak keenam prajurit TNI AD telah ditahan sementara selama 20 hari terhitung, dalam pengembangan kasus ini.
Diketahui, penahanan terhitung semenjak 29 Agustus hingga 17 September 2022. Mereka semua ditahan di tahanan Sub Detasemen Polisi Militer (Subdenpom) XVII/C Mimika.
Chandra menjelaskan, penahanan sementara pada keenam tersangka ini dilakukan untuk memudahkan pemeriksaan dan penyidikan. Tak hanya itu, penahanan sementara ini juga bertujuan untuk mempercepat penuntasan kasus.
“Kami berusaha sesegera mungkin kasus ini dituntaskan,” ujar jenderal bintang tiga tersebut.
Terancam hukuman berat

Sementara, Markas Besar TNI Angkatan Darat mengungkapkan, kasus mutilasi yang melibatkan enam prajurit akan diungkap dengan serius.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen Tatang Subarna berkata, sanksi tegas dan berat akan diberikan TNI AD terhadap para pelaku.
“(Penerapan sanksi) sesuai dengan peraturan dan ketentuan hukum yang berlaku,” kata Tatang.
Meningkatkan Kewaspadaan di Papua
Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi mengingatkan, untuk semua aparat penegak hukum dan militer harus meningkatkan kewaspadaan imbas kasus mutilasi tersebut.
Di mana menurut Bobby, kewaspadaan ini perlu ditingkatkan, sebab kasus ini mempunyai muatan antara militer dan warga sipil. Apalagi, diketahui salah satu korbannya diduga adalah simpatisan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
“Kami di parlemen hanya perlu mengingatkan agar meningkatkan kewaspadan karena walaupun kasus ini seperti kriminal biasa, tapi muatan sipil-militer, apalagi ada dugaan keterlibatan anggota atau simpatisan KKB,” ucap Bobby.
Sebagaimana diberitakan, jasad tiga dari empat korban sudah ditemukan. Polda Papua menduga jika salah satu korban yang berinisial LN adalah seorang simpatisan KKB Nduga pimpinan Egianus Kogoya.
Bobby juga menyebut adanya potensi kerentanan situasi selama proses penegakkan hukum kepada para pelaku. Kerentanan situasi ini tak lepas sebab adanya simpatisan KKB yang menjadi korban dalam kasus ini.
Bobby menilai, potensi kerentanan situasi tersebut bisa saja lewat adanya informasi propaganda yang dapat memicu keresahan publik.
Oleh sebab itu, pihaknya meminta aparat untuk memonitor mengenai informasi-informasi di tengah masyarakat yang berkaitan dengan kasus tersebut.
“Karena situasi di Mimika sangat rentan ketegangan sipil-militer, aparat perlu memonitor informasi yang beredar agar jangan dijadikan propaganda yang berpotensi membuat keadaan ricuh,” tegas Bobby.
Selain itu, Bobby menyatakan apa pun alasan motifnya para pelaku harus dihukum.
“Harus diproses hukum karena jelas normanya dalam KUHP Pasal 338 dan 340 yang menjadi dasar untuk menjatuhkan hukuman bagi pelaku tindak pidana pembunuhan mutilasi. Apapun motifnya, pelaku harus di hukum,” tambahnya.
Kronologi kejadian

Para tersangka diduga memancing keempat korban dengan dijanjikan menjual senjata jenis AK-47. Kemudian, keempat korban membawa uang senilai Rp 250 juta sesuai nilai senjata yang akan dijual.
Selanjutnya, korban dan pelaku bertemu Distrik Mimika Baru, pada 22 Agustus 2022 sekitar pukul 21.50 WIT. Akan tetapi, para pelaku justru membunuh mereka.
Usai membunuh, para pelaku memasukan jenazah ke dalam mobil korban dan membawanya ke Sungai Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, untuk dibuang. Pertama-tama, pelaku lebih dulu memasukkan korban ke dalam karung. Sebelum dibuang, keempat korban semuanya dimutilasi.
Para pelaku menuju ke Jalan masuk Galian C Kali Iwaka untuk membakar mobil Toyota Calya yang disewa oleh korban, setelah membuang para korban ke Sungai Kampung Pigapu.
Besoknya, mereka kembali berkumpul di gudang milik salah satu pelaku berinisial APL dan membagikan uang Rp 250 juta yang sudah mereka rampas dari korban.
Pada hari yang sama, polisi menemukan mobil yang disewa korban dalam keadaan hangus terbakar. Kemudian pada Jumat (26/8/2022), korban dengan inisial AL pun ditemukan oleh masyarakat dan polisi.
Masih di hari yang sama, polisi menemukan salah satu mobil Avanza hitam yang disewa korban di SP 1.
Lalu, pada Sabtu (27/8/2022), masyarakat kembali menemukan satu jenazah lagi di Sungai Kampung Pigapu. Polisi kembali menemukan satu jenazah korban mutilasi di Sungai Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua, Senin (29/8/2022) malam. Polisi masih mencari keberadaan satu jasad yang lainnya.