
Seputar Indonesia Timur — Penanganan korban kecelakaan kereta di Bekasi terus berlangsung. RS Polri Kramat Jati menerima 10 kantung jenazah dari insiden maut yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL di kawasan Stasiun Bekasi Timur.
Kepala Rumah Sakit Polri, Prima Heru, mengatakan semua jenazah yang diterima berjenis kelamin perempuan. Tim forensik saat ini langsung melakukan proses identifikasi untuk memastikan identitas para korban.
Dilaporkan, pihak rumah sakit telah membuka posko pengaduan serta pengumpulan data antemortem sejak malam sebelumnya. Data tersebut dibutuhkan untuk mencocokkan identitas korban secara akurat.
Hingga Selasa pagi, baru tiga keluarga yang datang untuk menyerahkan data pendukung kepada petugas. Proses ini diperkirakan masih akan terus berjalan seiring kedatangan keluarga korban lainnya.
Korban Jiwa dan Luka Terus Didata
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, sebelumnya menyampaikan bahwa total korban dalam insiden ini mencapai 14 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Tim gabungan masih melakukan pendataan untuk memastikan seluruh korban tertangani dengan baik, baik yang dirawat maupun yang telah dievakuasi.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, kejadian bermula ketika KRL relasi Bekasi–Cikarang mengalami gangguan setelah tertemper kendaraan di perlintasan sebidang.
Dikarenakan insiden tersebut, rangkaian KRL harus dihentikan dan diubah statusnya menjadi perjalanan luar biasa (PLB). Petugas kemudian menghentikan KRL lain di jalur yang sama sebagai langkah pengamanan.
Akan tetapi, kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melintas di jalur tersebut tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga tabrakan dengan rangkaian KRL yang sedang berhenti tidak dapat dihindari.
Insiden ini menjadi perhatian serius karena melibatkan transportasi publik dengan jumlah penumpang besar. Proses investigasi masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan mencegah kejadian serupa terulang.