
Seputar Indonesia Timur — Desa Lidi di Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih belum dapat diakses lima hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8).
Akses menuju desa tersebut masih tertutup material longsor berupa batu berukuran besar dan tanah. Kondisi medan yang berbahaya membuat tim penyelamat belum bisa masuk ke wilayah permukiman warga.
Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro yang berada di Pulau Palu’e mengatakan Desa Lidi menjadi satu-satunya wilayah yang hingga kini masih terisolasi sepenuhnya akibat dampak gempa dan longsor.
“Masih ada satu desa yang terisolir sama sekali, Desa Lidi,” kata Yugo kepada CNN Indonesia, Rabu (19/8).
Akses Darat dan Laut Belum Bisa Dilalui
Yugo menjelaskan, jalur darat menuju Desa Lidi belum dapat digunakan karena tertutup material longsor. Sejumlah batu besar dan timbunan tanah membuat perjalanan menuju desa tersebut berisiko bagi petugas maupun warga.
Upaya membuka akses melalui jalur laut juga belum memungkinkan. Gelombang tinggi di sekitar Pulau Palu’e dinilai dapat membahayakan tim yang hendak melakukan evakuasi maupun mengirimkan bantuan.
Tim gabungan dari Polres Sikka, Basarnas, dan TNI hingga Rabu masih tertahan di wilayah Pulau Palu’e sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk mencapai Desa Lidi.
Di tengah keterisolasian tersebut, warga mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, terutama air bersih dan makanan. Kondisi itu membuat sebagian warga terpaksa mencari sumber air dan makanan dengan cara yang berisiko.
Yugo mengatakan sejumlah warga bahkan memanjat pohon kelapa untuk mendapatkan air dan memenuhi kebutuhan konsumsi.
Namun, aktivitas tersebut juga menimbulkan korban. Salah seorang warga Desa Lidi, Servasius Sanda (25), terjatuh saat memanjat pohon kelapa ketika gempa kembali terjadi. Ia kemudian mendapat perawatan di puskesmas setempat.
“Ada warga di Desa Lidi karena sudah kekurangan bahan makan dan hampir kehabisan air minum panjat kelapa, tapi saat panjat ada gempa sehingga korban jatuh,” ujar Yugo.
Kondisi tersebut membuat pembukaan akses menuju Desa Lidi menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Selain untuk mengevakuasi warga yang membutuhkan pertolongan, jalur yang terbuka juga diperlukan agar distribusi air bersih, makanan, obat-obatan, dan bantuan lainnya dapat segera dilakukan.
Korban Meninggal di Sikka Bertambah
Di tengah proses penanganan bencana, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Kabupaten Sikka juga bertambah menjadi lima orang.
Korban terbaru merupakan seorang frater bernama Leonardus Noprianto Waku. Ia sebelumnya berada dalam kondisi kritis setelah melompat dari lantai tiga gedung sekolah di Seminari Tinggi Filsafat Katolik Ritapiret, Maumere, ketika gempa terjadi pada Sabtu (15/8).
Leonardus menjalani perawatan di RSUD TC Hillers Maumere sebelum akhirnya meninggal dunia pada Selasa (18/8) sekitar pukul 22.00 Wita.
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno membenarkan adanya tambahan korban meninggal dunia tersebut pada Rabu (19/8).
“Iya benar, ada tambahan satu korban meninggal dunia, meninggal di RSUD TC. Hillers Maumere,” kata Bambang.
Sementara itu, penanganan terhadap para penyintas terus dilakukan di sejumlah lokasi pengungsian. Di Gelora Samador Maumere, misalnya, para pengungsi mendapatkan pendampingan psikologis berupa trauma healing dari jajaran Polda NTT dan Polres Sikka.
Kegiatan tersebut dipimpin Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko. Trauma healing dinilai penting untuk membantu para penyintas, khususnya mereka yang mengalami ketakutan dan tekanan psikologis setelah merasakan langsung guncangan gempa.
Selain memenuhi kebutuhan dasar, pemulihan kondisi psikologis menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Terlebih, sebagian warga masih harus menghadapi ketidakpastian akibat kerusakan tempat tinggal dan akses yang belum sepenuhnya pulih.
Hingga kini, upaya membuka akses menuju Desa Lidi masih menjadi perhatian karena warga di wilayah tersebut menghadapi keterbatasan air bersih dan bahan makanan. Kondisi medan, longsor, serta gelombang tinggi menjadi tantangan bagi tim penyelamat untuk segera menjangkau masyarakat yang masih terisolasi.