Kabut Asap Selimuti Manokwari dan Sorong, Jadwal Pesawat Berubah


Seputar Indonesia Timur — 
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Tanah Papua. Penurunan jarak pandang membuat beberapa maskapai harus menunda hingga membatalkan penerbangan dari dan menuju sejumlah kota, termasuk Timika, Wamena, Sorong, dan Manokwari.

Gangguan tersebut terjadi karena kondisi udara belum memenuhi ketentuan jarak pandang untuk keselamatan penerbangan. Penumpang pun harus menunggu perkembangan informasi sebelum dapat melanjutkan perjalanan.

Humas Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura, Syahrial, mengatakan asap karhutla di wilayah tujuan menjadi salah satu penyebab penundaan keberangkatan dari bandara tersebut pada Senin (12/10/2026)

Lima Maskapai Terdampak Penundaan di Bandara Sentani

Sejumlah maskapai mengalami penundaan penerbangan dari Bandara Internasional Sentani, Kabupaten Jayapura. Maskapai yang terdampak antara lain Lion Air, Garuda Indonesia, Wings Air, Trigana Air, dan Sriwijaya Air.

Beberapa penerbangan yang sempat mengalami penundaan meliputi:

  • Lion Air JT-985 dengan rute Jayapura–Timika.
  • Garuda Indonesia GA653 dengan rute Jayapura–Timika.
  • Wings Air IW1635 dengan rute Jayapura–Wamena.
  • Lion Air JT799 dengan rute Jayapura–Sorong.
  • Sriwijaya Air SJ876 dengan rute Jayapura–Wamena.
  • Sriwijaya Air SJ789 dengan rute Jayapura–Timika.

Penundaan tersebut membuat sejumlah penumpang harus menunggu di Bandara Sentani untuk memperoleh kepastian jadwal keberangkatan. Maskapai dan pengelola bandara perlu menyesuaikan operasional dengan kondisi jarak pandang di wilayah tujuan.

Penerbangan ke Wamena Kembali Beroperasi

Meski sejumlah penerbangan sempat tertunda, layanan menuju beberapa daerah mulai berjalan kembali setelah kondisi memungkinkan.

Deputi Area Manager Trigana Papua, Irwan Rochendi, menyampaikan bahwa penerbangan menuju Wamena telah dilaksanakan sekitar pukul 12.00 WIT pada Senin. Layanan tersebut mencakup penerbangan penumpang maupun pengangkutan kargo setelah sebelumnya mengalami penundaan.

Namun, gangguan masih terjadi pada sejumlah rute lainnya. Penerbangan menuju Dekai sempat tertunda, begitu pula layanan ke beberapa wilayah di Papua Selatan, seperti Tanah Merah di Kabupaten Boven Digoel, Merauke, Kabupaten Mappi, dan Ewer di Kabupaten Asmat.

Khusus rute Tanah Merah, pelayanan penerbangan telah dihentikan sejak Jumat (9/10). Saat itu, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 300 meter sehingga tidak memenuhi kebutuhan keselamatan operasional penerbangan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat menghambat transportasi udara menuju daerah lain yang bergantung pada layanan penerbangan.

Kabut Asap Sempat Membatalkan Seluruh Penerbangan di Manokwari

Gangguan serupa terjadi di Bandara Rendani, Manokwari, Papua Barat. Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani, Herman Sujito, menjelaskan bahwa penurunan jarak pandang akibat kabut asap menyebabkan perubahan jadwal hingga pembatalan penerbangan sejak akhir September sampai Oktober 2026.

Pada Jumat (9/10), aktivitas penerbangan di Bandara Rendani masih berlangsung lancar dengan total 599 penumpang datang dan berangkat. Namun, kabut asap kembali menyelimuti kawasan bandara pada Sabtu (10/10) sehingga seluruh penerbangan dibatalkan.

Gangguan berlanjut pada Minggu (11/10). Sejumlah pesawat yang dijadwalkan mendarat pada pagi hari baru dapat tiba pada siang hari. Satu pesawat dari kelompok Lion Air juga berhasil mendarat sekitar pukul 22.30 WIT sebelum kembali terbang pada Senin dini hari.

Pada Senin, penerbangan yang masih mengalami gangguan adalah rute dari dan menuju Sorong, Papua Barat Daya. Sementara itu, penerbangan ke wilayah lain dilaporkan berjalan normal.

Herman menjelaskan bahwa kabut asap yang memengaruhi operasional Manokwari berasal dari dampak karhutla di Kabupaten Fakfak dan Teluk Bintuni, Papua Barat, serta Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Pihak pengelola Bandara Rendani mengutamakan keselamatan penerbangan ketika jarak pandang menurun. Jadwal penerbangan akan disesuaikan berdasarkan laporan kondisi cuaca terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta ketentuan jarak pandang untuk operasional pesawat.

Herman juga menyampaikan bahwa maskapai memberikan pilihan kepada penumpang yang terdampak pembatalan. Pilihan tersebut mencakup pengembalian biaya tiket secara penuh tanpa potongan maupun penjadwalan ulang keberangkatan.

Kebijakan itu diterapkan karena pembatalan terjadi akibat kondisi di luar kendali manusia, khususnya gangguan jarak pandang yang dapat membahayakan penerbangan.

Penumpang yang hendak bepergian menggunakan pesawat di wilayah Papua disarankan untuk memeriksa informasi terbaru dari maskapai dan bandara sebelum berangkat. Pemantauan prakiraan cuaca serta peringatan dari BMKG juga penting agar masyarakat dapat mengantisipasi perubahan jadwal perjalanan.

Selama kabut asap masih mengganggu jarak pandang, penyesuaian operasional kemungkinan tetap diperlukan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.

➤