2 Jasad Korban Longsor Ditemukan Basarnas di Arfak Papua Barat

Seputar Indonesia Timur – Dua korban longsor di Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak,  Yunus Ullo dan Desi Ullo berhasil ditemukan tim Basarnas dan TNI Polri usai dilakukan penggalian dengan alat berat eksavator, pada Senin (27/5/2024) lalu.

Diketahui, Yunus dan Desi merupakan satu keluarga yang tertimbun longsor, Minggu (26/5/2024) siang.

Keduanya adalah korban terakhir dengan total 4 korban meninggal dunia dan satu korban selamat. Identitas dua korban meninggal lainya adalah Etta Dowansiba dan Mika Dowansiba yang merupakan anak-anak. Sementara Jemson Dowansiba ditemukan selamat.

Kepala Basarnas Manokwari Suyatna menjelaskan, bahwa semua korban sudah ditemukan.

“Untuk dua korban yang terpisah baru ditemukan hari ini,” jelas Suyatna lewat pesan singkat WhatsApp.

Kepala Basarnas menuturkan, usai peristiwa longsor, sejak hari pertama pihaknya mengirim 12 orang tim Basarnas ke lokasi.

Di sisi lain, Ketua DPRD Papua Barat Orgenes Wonggor menyebut, longsor terjadi di kampungnya, Mbenti Distrik Minyambouw.

“Iya itu kampung saya, kemarin terjadi longsor,” ujar Orgenes Wonggor di Manokwari.

Longsor yang terjadi ini menyebabkan rumah warga tertimbun, di mana tiga rumah yang tak berpenghuni sementara dua rumah lainya ada penghuni.

Akses dari Kabupaten Manokwari ke Kabupaten Pegunungan Arfak bahkan lumpuh total akibat Jalan utama Trans Papua Barat tertimbun tanah.

Berdasarkan info yang ada, terdapat lima korban dalam bencana tersebut, 4 orang ditemukan tewas tertimbun tanah, sementara satu lainnya selamat dan dievakuasi ke Rumah Sakit Pertama Distrik Warmare Kabupaten Manokwari.

Ketua DPRD mengatakan, dana taktis kebencanaan di Papua Barat harus dianggarkan, baik oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat ataupun pemerintah kabupaten di Papua Barat.

“Bencana alam ini datang kan tidak bisa diprediksi sehingga seharusnya dana Darurat kebencanaan dianggarkan,” kata Orgenes Wonggor ketua DPRD Papua Barat.

Wonggor juga menyebut, bahwa tahun 2023 lalu ia mengetahui bahwa anggaran darurat kebencanaan dianggarkan sekitar Rp 60 miliar.

“Kalau tahun ini tidak tahu berapa tapi dialihkan untuk pemilihan kepala daerah,” ucap Wonggor.

Longsor tak hanya terjadi di Distrik Minyambouw, pasalnya beberapa hari sebelumnya sejumlah daerah di Papua Barat dilanda cuaca yang tidak bersahabat. Di mana hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir yang membuat jembatan terputus di Manokwari dan Pegunungan Arfak.

Bukan hanya itu, puluhan rumah terendam banjir di Kabupaten Teluk Bintuni, Manokwari dan di Pegunungan Arfak, beberapa ruas utama akses jalan Trans Papua Barat tertutup Longsor.

“Daerah atas itu memiliki topografi yang cukup miring jadi harus di pilah, mana lokasi yang bisa digunakan masyarakat berkebun dan mana yang jadi kawasan lindung,” terang Wonggor.

Dia menerangkan, longsor di kawasan jalan menuju Kabupaten Manokwari Selatan volumenya kecil sehingga sudah lakukan pembersih. Namun, beberapa ruas jalan rusak di Pegunungan Arfak akibat longsor.

“Tapi kalau lewat Minyambouw ke Pegaf itu putus total hingga hari ini,” terangnya.

“Ada banyak jalan yang rusak termasuk jembatan di kali Numow itu juga ada putus,” imbuhnya.