
Seputar Indonesia Timur – Setidaknya ada 44 desa yang berada di pedalaman Papua dan Papua Barat kini diterangi listrik negara setelah puluhan tahun hidup tanpa listrik.
Tetapi, 58 desa lain di kawasan pegunungan Papua yang masih menunggu aliran listrik karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.
Data PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat mengatakan, desa-desa tersebut berada di sembilan kabupaten, yakni di Mappi, Asmat, Boven Digoel, Dogiyai, dan Deiyai di Papua. Tidak hanya itu, ada juga di Kaimana, Tambrauw, Maybrat, dan Fakfak di Papua Barat.
Abdul Farid selaku General Manager PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat mengungkapkan, ini semua merupakan implementasi dari Program Papua Terang dari pemerintah pusat.
Dia sendiri bersyukur, sebab upaya menerangi desa-desa itu bisa berbuah manis, di tengah kondisi geografis yang berat dan pandemi Covid-19.

Rata-rata, ratusan desa ini mendapatkan layanan listrik dengan kapasitas daya 15 kilowatt (kW)-100 kW. Listrik tersebut dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
”Sebelumnya masyarakat di puluhan desa ini hidup dalam kondisi gelap gulita pada malam hari. Tahun ini, melalui Papua Terang, mereka akhirnya bisa mendapatkan layanan listrik,” ujar Abdul.
Akan tetapi, tidak semua desa sudah mendapat aliran listrik. Contohnya, warga di Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Kabupaten Nduga belum bisa mendapatkan aliran listrik karena kondisi keamanan yang belum stabil.
”Kami belum dapat melaksanakan survei untuk pemasangan listrik di 58 desa karena faktor keamanan. Desa-desa itu berada di pegunungan Papua,” imbuh Abdul.
Layanan listrik di Papua

Belum adanya listrik dikarenakan, Kelompok kriminal bersenjata (KKB) kerap beraksi di kawasan itu. Setidaknya dalam 8 bulan terakhir, ada 9 aparat keamanan dan 13 warga meninggal. Kemudian, 17 aparat keamanan dan 3 warga terluka karena terkena tembakan anggota KKB.
PLN juga akan meningkatkan layanan jam nyala listrik di Deiyai, Dogiyai, dan Paniai, dari 18 jam menjadi 24 jam tahun ini. Sementara itu, di Maybrat, yakni Desa Eway dan Desa Ayawasi, kini mendapat akses listrik selama 24 jam.
”Pemasangan listrik dan peningkatan jam nyala ini diharapkan berdampak pada rasio elektrifikasi di sana. Kami akan terus meningkatkan cakupan Papua Terang hingga akhir tahun ini,” ujarnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendata, jumlah Rasio Desa Berlistrik (RDB) Provinsi Papua kini mencapai 95,09 persen dari total 5.521 desa. Dengan jumlah rasio di Papua Barat sebesar 97,33 persen dari 1.837 desa.
Bupati Paniai Meki Nawipa pun mengapresiasi kerja keras PLN. Sebab mereka dapat membuat sistem kelistrikan di tiga kabupaten dapat beroperasi menjadi 24 jam.
Ke depannya, ia mengimbau warga untuk terus mendukung PLN menjaga pasokan listrik ke pelanggan. Dukungan itu seperti, masyarakat tidak menghambat kerja petugas PLN memangkas bagian pohon yang berpotensi mengganggu jaringan listrik.
”Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya PLN. Usulan kami agar listrik dapat menyala selama 24 jam di Dogiyai, Deiyai dan Paniai, dapat terealisasikan,” ujarnya.
Anggota DPRP Papua Komisi IV Bidang Infrastruktur, Thomas Sondegau mengungkapkan, rasio elektrifikasi di Papua berada di angka 90 persen, menunjukkan hasil kebijakan Nawacita dari Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan pembangunan di daerah-daerah terpencil.
”Kami berharap semua desa di Papua segera terlistriki dalam waktu dekat. Dengan ini, (pemerintah) menunjukkan dapat meningkatkan pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi mikro, dan kesehatan, di pedalaman Papua,” harap Thomas.