Jumlah Senjata yang Hilang di Insiden Nduga Belum Bisa Dipastikan

Seputar Indonesia Timur – Mayjen Muhammad Saleh Mustafa selaku Pangdam XVII/Cenderawasih menyebut pihaknya belum dapat memastikan berapa jumlah senjata yang hilang setelah peristiwa penyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Mugi-Mam, Nduga, Papua Pegunungan, pada pertengahan April lalu.

“Terkait jumlah senjata dan materil lainnya yang hilang belum bisa dipastikan karena masih dalam proses penyelidikan,” ujar Saleh dalam keterangan tertulis, Rabu (10/5).

Saleh meminta agar semua pihak bisa menunggu kepastian dari hasil penyelidikan. Sementara itu, ia juga memberikan apresiasi kerja aparat gabungan TNI-Polri. Di mana mereka berhasil memperoleh barang-barang milik KKB selama pencarian pilot Susi Air Philip Mark.

“Senjata, munisi dan perlengkapan lainnya, termasuk HT, SSB, HP dan alat komunikasi milik gerombolan KST selama pencarian pilot Susi Air dan penegakan hukum,” katanya.

Dikutip dari Antara, sebelumnya Saleh sempat mengatakan sembilan pucuk senjata organik TNI-AD hilang setelah insiden itu.

“Senjata api yang hilang itu merupakan senjata organik TNI-AD,” ucap Saleh, Selasa (9/5) di Jayapura.

Diketahui sembilan pucuk senjata organik TNI-AD yang hilang di Mugi, yakni lima pucuk SS2 V1 100 IAR, dua pucuk senpi FN Minimi serta mouser dan SS2 V5 masing-masing satu pucuk.

Lima orang anggota TNI meninggal dunia dalam insiden penyerangan di Mugi Nduga. Dan proses evakuasi jasad prajurit sempat mengalami kendala karena kondisi cuaca dan medan di lokasi.

Setelah peristiwa itu, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengumumkan status siaga tempur untuk daerah-daerah rawan di Papua.

Pernyataan tersebut langsung menuai kontra dan kritik tajam dari organisasi masyarakat sipil khususnya yang fokus pada isu kemanusiaan.