Konflik Suku di Wamena Mulai Mereda, Polisi Tingkatkan Pengamanan


Seputar Indonesia Timur —
Kondisi keamanan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mulai berangsur membaik usai bentrokan antarsuku yang menewaskan belasan orang beberapa hari lalu. Polda Papua memastikan bahwa saat ini aparat gabungan masih bersiaga di beberapa titik untuk menjaga stabilitas keamanan dan mencegah konflik susulan.

Kabid Humas Polda Papua, Cahyo Sukarnito, mengatakan personel dari Polres Jayawijaya dan Sat Brimob Polda Papua ditempatkan di tujuh lokasi strategis di wilayah Kota Wamena. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi gangguan kamtibmas sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Cahyo menuturkan bahwa aktivitas warga perlahan kembali normal. Kegiatan peribadatan, perkantoran, hingga proses belajar mengajar mulai berjalan seperti biasa setelah situasi sempat memanas akibat perang suku.

Pemerintah dan Tokoh Adat Dorong Penyelesaian Damai

Upaya pemulihan keamanan dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Salah satu langkah yang dilakukan ialah menggelar dialog bersama masyarakat Lanny Jaya di Gereja Gonambur, Distrik Sinakma, Kabupaten Jayawijaya.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Ribka Haluk, Jhon Tabo, hingga Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang.

Dalam dialog itu, pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengajak masyarakat menahan diri agar situasi tetap kondusif. Pemerintah juga meminta warga Lanny Jaya yang berada di Wamena untuk kembali ke daerah asal demi mencegah konflik meluas.

Sementara itu, perwakilan masyarakat berharap penyelesaian konflik dilakukan melalui mekanisme adat sebagai jalan utama menciptakan perdamaian antara kedua kelompok yang bertikai. Mereka juga meminta jaminan keamanan dari aparat selama proses pemulangan warga berlangsung.

Korban Jiwa dan Pengungsi Terus Didata

Bentrok yang melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma) tersebut terjadi sejak Kamis (14/5) di Distrik Woma dan meluas ke beberapa wilayah lain di Jayawijaya hingga Jumat (15/5).

Berdasarkan data terbaru dari Polres Jayawijaya, jumlah korban meninggal dunia mencapai 13 orang. Selain itu, 19 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk tiga korban dengan kondisi luka berat yang masih menjalani perawatan di RSUD Wamena.

Pihak kepolisian juga mencatat ratusan warga terpaksa mengungsi akibat konflik tersebut. Total pengungsi mencapai 789 orang yang terdiri dari pria, wanita, anak-anak, hingga lansia.

Hingga kini, aparat gabungan masih melakukan patroli dan penjagaan terbatas di sejumlah lokasi rawan sebagai langkah pengamanan lanjutan. Polda Papua turut mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi informasi yang belum jelas kebenarannya dan bersama-sama menjaga situasi damai di Papua Pegunungan.