
Seputar Indonesia Timur – Pada Senin (12/02), sekelompok orang dilaporkan membakar sejumlah kotak suara dan surat suara di tempat penyimpanannya di Distrik Kebo dan Distrik Yagai, Kabupaten Paniai, Papua Tengah.
Dan sehari sebelumnya, pada Minggu (11/02), aksi pembakaran logistik pemilu juga dilakukan sekelompok orang di Distrik Baya Biru, Paniai.
Polisi menyebut, tindakan tersebut diduga terkait kemarahan orang-orang yang kecewa sebab lokasi pemungutan di lokasi tersebut dipindahkan ke Distrik Aradide.
Karena aksi pembakaran itu proses distribusi logistik ke Distrik Baya Biru, Kabupaten Paniai “menjadi terhambat”, ujar Kapolda Papua Irjen Mathius D. Fakhiri pada awak media di Jayapura, Papua, Senin (12/02).
Hingga Selasa (13/02) pagi Waktu Indonesia Timur (WIT), surat suara masih belum didistribusikan ke distrik tersebut.
Oleh karena itulah, Polda Papua meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Paniai untuk memastikan apakah mereka dapat segera mendistribusikan logistik pemilu untuk proses pemungutan suara pada Rabu (14/02).
Mathius Fakhiri mengatakan, bahwa pihaknya sudah membahas dengan KPU terkait daerah-daerah di Papua yang disebutnya “rawan konflik”.
Dari pembahasan itulah, KPU lalu mempertimbangkan untuk memindahkan Tempat Pemungutan Suara (TPS) ke daerah yang lebih aman.
Polisi Tambah Pasukan ke Paniai

Selain itu, Polda Papua akan menambah jumlah anggotanya ke dua distrik di Kabupaten Paniai, Papua Tengah, menyusul aksi pembakaran logistik pemilu yang terjadi di sana.
“Kami Polda Papua sudah perintahkan untuk segera mengirim perkuatan ke Paniai supaya tidak berulang,” ucapnya.
Usai insiden itu, Kapolda Papua mengingatkan aparat kepolisian di daerah rawan di Papua, yakni di Puncak, Intan Jaya serta Nduga, supaya “meningkatkan kewaspadaan”.
Dikutip dari detik.com, Kapolres Paniai AKBP Abdus Syukur Felani mengatakan, situasi dan kondisi di Distrik Baya Biru saat ini “telah kondusif”.
Meski demikian, aparat keamanan tetap melakukan penjagaan untuk mengantisipasi aksi-aksi serupa.