
Seputar Indonesia Timur – Penyusutan secara signifikan dialami oleh Gunung es di puncak Jaya, Gunung Jaya Wijaya, Papua. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
Tidak sampai disitu, ia juga memprediksi bahwa pada tahun 2025, gunung es yang berada di puncak Jaya akan habis, jika kondisi penyusutan ini terus menerus terjadi.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan komisi V DPR dan Badan SAR Nasional, Senin (22/3/2020) yang lalu, Dwikorita berkata, bahwa saat penelitian yang dilakukan di tahun 2021, penyusutan ketebalan es di puncak Jayawijaya telah mencapai 23,46 meter. Padahal di tahun 2010, ketebalannya masih mencapai 31,49 meter.

Ketebalan es puncak Jaya ini berkurang 5,26 meter dari 2010-2015 dengan rata-rata penyusutan 1,05 meter per tahun.
Dwikorita mengatakan, jika tidak ada yang menindaklanjuti kondisi ini, maka penyusutan ini bisa menjadi semakin parah. Dimana nantinya, ketebalan es di puncak berketinggian 4.884 mdpl itu akan habis.
Dalam rapat tersebut, Dwikorita menegaskan bahwa penyusutan ketebalan es yang berada di puncak Jaya tersebut diakibatkan karena adanya perubahan iklim global yang dirasakan dampaknya di Indonesia.
Bukan hanya ketebalan es Gunung Jayawijaya yang diprediksi hilang, Dwikorita juga memprediksi jika nantinya akan terjadi kenaikan temperatur hingga mencapai 4 derajat celsius di akhir abad ke-21.
“Padahal peringatan dunia, tidak boleh melampaui 2 derajat celsius kenaikannya. Dan itulah yang mengakibatkan sering terjadinya cuaca ekstrem, karena suhunya semakin panas,” jelasnya.
Menurutnya, cuaca ekstrem ini terjadi karena diakibatkan dari adanya efek gas rumah kaca yang semakin tak terkendali. Gas rumah kaca ini banyak dihasilkan dari industri transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Ini kalau tanpa pengendalian, atau hanya seperti saat ini, maka dari grafik ini menunjukkan, hampir di seluruh pulau di Indonesia, sampai akhir abad ke-21, kenaikan suhu dapat mencapai hampir 4 derajat celsius,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, ia berharap emisi gas rumah kaca dapat diminimalisasi oleh semua pihak. Jika hal tersebut dilakukan, maka kurva kenaikan temperatur akan melandai.
Pada kesempatan tersebut dia juga mendorong Komisi V DPR untuk membuat program yang sistematis guna mengerem kenaikan suhu. Hal tersebut dinilainya perlu dilakukan untuk mengendalikan efek gas rumah kaca.