
Seputar Indonesia Timur – Para warga dari empat kampung yang berada di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, mengungsi di Kompleks Pastoran Gereja Katolik Santo Mikael Bilogai. Setidaknya ada 1.000 warga yang mengungsi.
Penyebab mereka mengungsi karena mereka takut menjadi korban dari konflik senjata antara aparat keamanan dan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang ada di Kabupaten Intan Jaya.
Hingga saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua mengaku bahwa mereka kesulitan untuk mendapatkan data pengungsi karena komunikasi yang terputus.

“Untuk masalah bencana sosial di Intan Jaya, sejak November 2020 kami sudah ada komunikasi dengan pemerintah daerah di sana. Kami sudah meminta mereka menyurat agar itu menjadi dasar untuk kami bertindak. Memang kami tidak bisa ke sana karena penerbangan terbatas,” ucap Ribka Haluk selaku Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua.
Ribka juga menyampaikan, jika sampai hari ini data yang mereka minta, baik dari dinas maupun gereja, belum ada.
“Jadi mungkin kami akan turunkan tim mengingat pengungsi semakin banyak,” imbuhnya.
Hingga saat ini, Ribka mengaku belum mendapat informasi lebih lanjut mengenai kondisi pengungsian di Kompleks Pastoran Gereja Katolik Santo Mikael Bilogai. Hal inidikarenakan jaringan komunikasi yang tidak dapat di akses di Sugapa untuk saat ini.
Ribka berpendapat, jika Pemprov Papua telah mendorong Bupati lewat Kepala Dinas Sosial Intan Jaya untuk menetapkan status tanggap darurat bencana sosial. Ia bahkan mengaku sudah memberikan draf surat keputusannya untuk Kepala Dinas Sosial Intan Jaya. Namun, sampai pada saat ini hal tersebut belum terealisasikan.
Ribka juga menjelaskan, mereka sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Sosial Intan Jaya, namun karena merasa terancam mereka sudah mengungsi ke kampung.
“Sebelum kami turun, saya minta SK tanggap darurat dari bupati, dan itu sesuai aturan memang begitu. Atas dasar itu, kami bisa keluarkan beras cadangan pemerintah untuk bantuan kepada para pengungsi dan bahan pangan lain,” jelas Ribka.
Sejak 13 Februari 2021, keuskupan Timika telah mengeluarkan surat permohonan bantuan yang ditujukan kepada pastor paroki, dewan paroki, dan umat paroki.
Surat yang telah ditandatangani oleh Administator Diosesan Keuskupan Timika, P Marthen Kuayo tersebut menjelaskan, bahwa akibat konflik bersenjata di Intan Jaya, masyarakat merasa ketakutan dan memilih mengungsi di Kompleks Pastoran Gereja Katolik Santo Mikael Bilogai.
Disebutkan pula bahwa ada juga beberapa warga Intan Jaya yang mengungsi hingga ke Paroki St Antonius, Bumiwonorejo, Nabire.
Perlu diketahui sebelumnya, jika warga yang mengungsi di Kabupaten Intan Jaya terus bertambah. Sampai pada Senin (15/2/2021), jumlahnya telah mencapai sekitar 1.000 orang.