:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3927628/original/083490800_1644318524-Penampungan_Air_Bersih.jpg)
Seputar Indonesia Timur – Kini, warga di Kampung Waa Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, dapat menikmati fasilitas air bersih dan lisrik.
Hal ini karena adanya perbaikan infrasruktur air bersih dan instalasi listrik bagi warga setempat.
Perbaikan ini dilakukan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) yang telah mengeluarkan dana sebesar 500.000 dollar AS atau lebih dari Rp 7 miliar dalam pengerjaan proyek yang dilakukan sepanjang 2021.
“Kami berharap perbaikan fasilitas air bersih dan listrik ini dapat bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di kampung Lembah Waa Banti,” ujar Vice President Sustainable Development PTFI Nathan Kum, Rabu (9/2/2022).
Perbaikan ini mulai dikerjakan pada pertengahan 2021 dan sudah selesai pada Desember 2021 lalu.
Waa Banti sendiri adalah sebuah kampung yang berlokasi 5 kilometer dari area operasi PTFI.
Kesulitan Air Bersih dan Listrik
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3927629/original/087144100_1644318524-Pasokan_Listrik_Kampung_Waa_Banti.jpg)
Masyarakat kampung Waa Banti pernah meninggalkan kampung mereka karena adanya gangguan keamanan. Namun pada awal 2021, masyarakat sudah kembali ke kampungnya di Distrik Tembagapura.
Masyarakat Waa Banti sempat mengalami kesulitan air bersih dan listrik pada malam hari sekembalinya mereka ke kampung. Pasalnya, mayoritas infrastrukur mengalami kerusakan.
PTFI yang didukung oleh Kepala Kampung dan juga TNI-Polri dalam melakukan perbaikan infrasruktur air bersih dan instalasi listrik tersebut. Karena hal itu, warga kampung pun sudah dapat menikmati air bersih dan jaringan listrik.
“Freeport memberi perhatian dan mendukung pembangunan dan perbaikan fasilitas ini agar masyarakat tetap nyaman tinggal di kampung halamannya,” tambahnya.
Mulai Perbaikan Infrastruktur

Group Leader Community Infrastructure PTFI Rolly Nelwan menuturkan, saat melakukan perbaikan infrastruktur di kampung Waa Banti, medan berat dan cuaca adalah salah satu tantangan berat dalam pengerjaan proyek tersebut.
Contohnya saja dalam hal perbaikan infrastruktur air bersih, PTFI membuat dam (bak air) di daerah Opitogong yang berjarak sekitar 5 kilometer dari perkampungan warga.
“Perjalanan para pekerja untuk sampai di dam tersebut membutuhkan minimal 1,5 jam sekali jalan, sehingga ini merupakan tantangan tersendiri,” jelas Rolly .
Sementara itu dalam perbaikan instalasi listrik, PTFI melakukan perbaikan pada generator berkapasitas 550 kVA yang ada di area Banti II.
Perbaikan instalasi listrik tersebut mencakup perbaikan semua trafo, pemasangan tiang listrik, dan juga perbaikan jaringan listrik di dalam rumah warga
“Banyak sekali jaringan listrik di dalam dan di luar rumah yang rusak sehingga perbaikan membutuhkan waktu dan biaya yang besar,” lanjutnya.
Akan tetapi, upaya tersebut terbayar sudah, sebab warga kampung Waa Banti kini tak perlu lagi membeli lilin. Mereka juga bisa melakukan berbagai aktifitas di malam hari.

Dengan adanya air bersih ini juga membuat masyarakat tidak perlu menampung air hujan, ataupun harus jalan cukup jauh ke sungai untuk melakukan berbagai aktivitas seperti mencuci baju, mencuci tempat makan, dan mandi.
Rolly menilai, masyarakat juga merasa senang sebab semua fasilitas umum, terutama Gereja, kini sudah memiliki listrik.
Ia menjelaskan, terpenuhinya kebutuhan dasar di kampung Waa Banti, masyarakat bisa melakukan kegiatan sehari-hari dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
“PTFI berharap listrik dan air bersih yang telah tersedia di kampung Waa Banti dapat dipergunakan dengan baik oleh masyarakat dan termasuk merawat dan menjaga semua fasilitas tersebut,” ujarnya.