
Seputar Indonesia Timur — Aktivitas masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan, kembali terganggu akibat kabut asap karhutla yang semakin pekat pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026. Asap menyelimuti jalan-jalan perkotaan hingga membatasi jarak pandang, sementara warga mulai merasakan dampaknya terhadap kesehatan.
Kondisi tersebut menambah keresahan masyarakat yang telah menghadapi kabut asap selama sekitar dua bulan. Sejumlah warga mengeluhkan mata perih, sesak napas, batuk, hingga gejala menyerupai flu ketika beraktivitas di tengah udara yang semakin tidak sehat.
Hendra Basirin, salah seorang warga Palembang, menggambarkan kabut asap yang semakin tebal dan membuat kegiatan sehari-hari terasa tidak nyaman. Ia menyebut kondisi di luar ruangan seolah-olah tertutup asap dari segala arah, disertai cuaca yang terasa panas.
“Semakin tebal, mengganggu aktivitas sehari-hari, mata perih sesak napas, seperti berada di atas awan, panas tebal, asap semua,” ujar Hendra.
Keluhan tersebut mencerminkan dampak yang dirasakan warga ketika kabut asap terus menyelimuti kawasan perkotaan. Selain mengganggu mobilitas, kondisi udara juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama jika paparan berlangsung berulang kali.
Warga Pertanyakan Hasil Penyemaian Dry Ice
Di tengah kabut asap yang belum kunjung mereda, warga mempertanyakan hasil upaya pemerintah menggunakan teknologi penyemaian dry ice beberapa hari sebelumnya. Mereka menilai kabut asap kembali muncul setelah dampak penanganan tersebut tidak lagi terlihat.
Salah seorang warga bahkan mengungkapkan kekecewaannya karena kondisi udara kembali memburuk dalam waktu singkat. Ia mempertanyakan efektivitas metode tersebut, mengingat kabut asap masih menyelimuti wilayah tempat tinggalnya.
“Ngabisi duit bae, dry ice bertahan cuma dua hari, kabut masih ado lagi, ado lagi,” keluhnya dalam bahasa Palembang.
Pernyataan itu menunjukkan harapan masyarakat agar upaya penanganan karhutla memberikan hasil yang lebih nyata dan bertahan lama. Warga tidak hanya menginginkan kabut asap berkurang sementara, tetapi juga penyelesaian masalah kebakaran yang menjadi penyebabnya.
BNPB dan BRIN Sempat Tebar 1.600 Kilogram Dry Ice

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya melakukan penyemaian bahan untuk mendukung upaya modifikasi cuaca pada 19 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, petugas menyemai 1.600 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memecah kabut asap sekaligus memicu hujan buatan untuk membantu mengatasi dampak karhutla.
Namun, kabut asap yang kembali menebal membuat masyarakat mempertanyakan hasil pelaksanaan upaya tersebut. Warga berharap pemerintah tidak berhenti pada tindakan yang bersifat sementara, melainkan memperkuat penanganan kebakaran yang masih berlangsung.
Di sisi lain, keberhasilan modifikasi cuaca tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan. Kondisi atmosfer juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pelaksanaan dan hasil kegiatan tersebut.
BNPB menjelaskan bahwa penyemaian dry ice merupakan bagian dari Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Efektivitas teknologi tersebut bergantung pada kondisi awan serta kecepatan angin di wilayah sasaran.
Saat ini, kecepatan angin dilaporkan masih berada pada kisaran 5–10 kilometer per jam dan relatif stagnan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca.
Dengan demikian, penyemaian dry ice tidak serta-merta menjamin kabut asap langsung hilang atau hujan turun sesuai harapan. Hasilnya tetap dipengaruhi kondisi alam yang mendukung proses pembentukan hujan.
Meski begitu, masyarakat berharap pemerintah daerah Sumatera Selatan meningkatkan keseriusan dalam menangani karhutla yang telah berlangsung selama dua bulan. Mereka menginginkan langkah yang lebih menyeluruh agar kebakaran dapat dikendalikan dan kabut asap tidak terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Selama asap masih menyelimuti permukiman dan jalan perkotaan, persoalan ini bukan sekadar masalah jarak pandang, tetapi juga menyangkut kenyamanan serta kesehatan warga. Penanganan yang berkelanjutan menjadi harapan masyarakat agar kondisi udara di Palembang dan sekitarnya kembali membaik.