Amankan Situasi, Polri Siaga di Papua dan Maluku Utara


Seputar Indonesia Timur — 
Situasi keamanan di beberapa wilayah Indonesia Timur menjadi sorotan usai terjadi konflik yang berujung kekerasan. Oleh karena itu, untul memastikan kondisi tetap terkendali, Kepolisian Republik Indonesia mengambil langkah cepat dengan mengirim tambahan personel ke daerah terdampak.

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) mengerahkan ratusan personel ke Papua Tengah dan Maluku Utara. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas keamanan sekaligus merespons perkembangan situasi di lapangan yang dinilai cukup dinamis.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan bahwa penguatan personel menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat penanganan konflik serta mencegah eskalasi lebih lanjut.

Pengecekan Kesiapan Pasukan

Sebelum diterjunkan ke wilayah tugas, seluruh personel telah melalui proses pengecekan kesiapan. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada Sabtu, 4 April 2026.

Menurut Trunoyudo, langkah ini penting guna memastikan bahwa seluruh pasukan dalam kondisi siap, baik dari sisi peralatan maupun mental, sebelum menjalankan tugas pengamanan di wilayah rawan konflik.

Polri sendiri mengirimkan berbagai satuan untuk memperkuat pengamanan di dua wilayah tersebut. Untuk Papua Tengah, sebanyak 100 personel Brigade Mobil (Brimob) diterjunkan untuk menjaga stabilitas keamanan.

Bukan hanya itu, ada juga tim dari Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) yang berjumlah delapan personel dan dibagi ke Papua Tengah serta Maluku Utara. Dukungan lain datang dari Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) dengan 10 personel yang difokuskan ke Papua Tengah.

Kemudian, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) juga mengirimkan 26 personel yang ditempatkan di kedua wilayah. Sementara itu, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) menurunkan 20 personel ke Papua Tengah untuk mendukung proses penegakan hukum.

Konflik di Halmahera Tengah

Penambahan personel di Maluku Utara difokuskan di wilayah Halmahera Tengah. Konflik di daerah ini dipicu oleh kasus pembunuhan seorang warga di Desa Bobane Jaya.

Kemudian peristiwa tersebut memicu ketegangan yang meluas menjadi bentrokan antarwarga, khususnya antara masyarakat Desa Bobane Jaya dan Desa Sibenpopo. Akibat konflik tersebut, dilaporkan adanya korban jiwa, kerusakan rumah warga, fasilitas umum, hingga tempat ibadah yang turut terdampak.

Aparat gabungan dari TNI dan Polri bersama pemerintah daerah langsung bergerak untuk meredam situasi. Upaya tersebut membuahkan hasil, di mana kondisi mulai berangsur kondusif pada Jumat sore, 3 April 2026.

Sementara itu, di Papua Tengah, penguatan personel dilakukan di Kabupaten Dogiyai. Langkah ini menyusul insiden penganiayaan berat terhadap anggota Polri, Bripda Juventus Edowai, yang dilakukan oleh orang tak dikenal.

Peristiwa tersebut menyebabkan korban meninggal dunia dan memicu perhatian serius dari aparat keamanan. Polri memastikan akan mengusut tuntas kasus ini serta menindak pelaku sesuai hukum yang berlaku.

Dalam penanganannya, Polri menegaskan tidak hanya mengedepankan pendekatan tegas, tetapi juga pendekatan humanis untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat.

Imbauan untuk Masyarakat

Polri mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Penyebaran hoaks dan provokasi dinilai dapat memperkeruh situasi yang sudah sensitif.

Saat ini, aparat masih terus melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan di Halmahera Tengah serta penyerangan terhadap anggota Polri di Dogiyai. Di sisi lain, upaya pengamanan terus ditingkatkan guna memastikan kondisi tetap aman dan terkendali.

Diharapkan, masyarakat juga ikut berperan aktif dalam menjaga keamanan lingkungan serta mendukung upaya aparat dalam menciptakan situasi yang kondusif di kedua wilayah tersebut.